Sekapur Sirih

Mengapa memilih nama Ura-Ura?

Awal bulan Agustus tahun 2015 malam itu, dua manusia duduk mengobrol santai sambil makan minum di sebuah tempat makan di Sidoarjo, sebuah kota kecil pinggiran yang menjadi periurban Surabaya. Yang satu baru beberapa bulan lulus kuliah, sedangkan yang satu lagi tengah menghadapi tugas akhir. Sidoarjo adalah kampung halaman kedua orang yang sama-sama berkampus di Surabaya tersebut. Tak lama kemudian, seorang kawan datang lagi. Ia baru saja kembali dari suatu acara di kota Surabaya.

Tiga sekawan tersebut sering bermain bersama, belajar dari satu sama lain, berdiskusi, bercanda, dan terlibat bersama dalam beberapa proyek serta acara. Maka pertemuan malam itu adalah kelanjutan dari obrolan ngalor-ngidul mereka sebelumnya tentang rencana kehidupan selepas kelulusan.

“Susah juga, ya, merawat idealisme kalau sudah lulus…” adalah keluhan yang tipikal bagi mereka. Siapa yang tidak faham akan kondisi dunia yang serba menghimpit seperti sekarang. Seolah-olah kalau kita mau bertahan hidup, kita harus mengorbankan idealisme. Berawal dari situlah, mereka sepakat tidak boleh menyerah pada keadaan. Apalagi, saat itu mereka tengah berada di tengah-tengah usaha untuk tetap merawat semangat, nurani, dan mimpi agar tidak kalah dengan sistem kehidupan yang dirasa sudah tidak memanusiakan manusia sembari tetap bisa independen berkarya.

Manusia yang pertama adalah mahasiswa tingkat akhir DKV di ITS, giat mengadakan lokakarya dan pameran ilustrasi cat airnya yang banyak mengangkat kisah suku-suku pedalaman, hutan-hutan, juga makhluk tak kasat mata yang terpinggirkan atas nama pembangunan. Ia juga konsisten berkarya untuk mengampanyekan keadilan gender. Yang kedua, seorang lulusan segar HI Unair, saat itu sedang bekerja di YPBB, sebuah organisasi lingkungan di Bandung, dan tengah merintis upaya-upaya penelitian dan pergerakan sosial bersama Komune Rakapare. Di paruh waktu, ia juga mendalami ilustrasi dan seni. Sementara yang ketiga adalah mahasiswi Desain Produk ITS, sedang banyak mempelajari dan melakukan lokakarya hastakarya dari bahan, serat, serta pewarna alam, mulai dari tekstil hingga aksesoris.

Karena sama-sama menaruh minat pada pengetahuan, pergerakan, terutama seni dan budaya, mereka pun sepakat membuat kolektif kecil. Ah, banyak sekali ide yang dicetuskan malam menjelang dini hari itu. Karena idenya spontan, mereka tidak ada persiapan membawa kertas dan alat tulis sehingga mereka pun menuliskannya di meja makan dan kertas nota dengan pulpen pinjaman dari mas-mas pegawai tempat makan tersebut. Ketika harus menentukan nama, mereka pun mulai menentukan kata kunci.

“Aku ingin kata-kata singkat dan sederhana yang merangkum sekian banyak kepercayaan kita akan ide, masyarakat akar rumput, nusantara, seni, dan lain sebagainya!” cetus salah satu dari mereka.

Mereka pun mulai mencari di ponsel masing-masing, mengecek situs nama bayi, bertanya pada teman-teman pecinta sastra, sambil menceletukkan calon-calon nama. Ada banyak calon nama saat itu, mulai dari kecak-kecik, pranala, akarenu, sampai pohon bodhi. Kalau mengingat terpingkal-pingkal bertiga karena nama-nama konyol, mereka masih suka tersenyum sendiri. Sampai salah satu dari mereka teringat akan nama seorang pertapa Bhutan yang bernama Karma Ura.

Lalu mulailah pencarian arti kata “ura”. Dan ternyata ia adalah salah satu kata dengan banyak arti dari berbagai macam bahasa, mulai dari Jepang, Rusia, Kawi, dan Sansekerta. Arti kata ura yang paling mereka sukai berada dalam bahasa Sansekerta: ura berarti bumi sekaligus cinta dari hati. Di Indonesia sendiri, ura-ura berasal dari rumpun melayu dan berarti bermusyawarah, berbincang-bincang, dan berunding. Dalam bahasa Jawa, ngura-ura berarti bersenandung kecil.

Mereka langsung setuju. Si mahasiswa DKV pun bilang ia sudah bisa membayangkan alternatif desain visual untuk logo dan brandingnya. Mereka juga girang membayangkan di masa depan akan punya tempat kecil penuh buku-buku (dengan buku bergambar karya bersama termasuk di dalamnya), ruang berkumpul komunitas, ruang lokakarya, dan kebun organik untuk makan sehari-hari di pekarangannya, semua cocok diberi nama Ura-Ura. Mereka pun membagi kerja dan menentukan lini masa. Logo sudah jadi dan mereka bahkan sudah menyiapkan stok foto dan visual untuk dipasang di web.

Lalu kehidupan terjadi.

Hubungan jarak jauh memang susah, bahkan setelah mereka membuat grup chat. Setelah pulang kampung yang singkat itu, ada yang kembali ke Bandung dan tenggelam dengan kegiatannya. Ada yang kalang kabut menyelesaikan TA yang tenggatnya kian dekat. Ada yang sibuk berkegiatan di kampus dan bolak-balik kecelakaan lalu lintas karena sering baru pulang saat subuh. Ura-Ura terbengkalai tinggal nama.

Sampai pada akhir Juni 2016, salah satu dari mereka sedang berkumpul dengan sekelompok orang yang berbeda. Ada 7 orang saat itu sedang berkumpul di Bale Pare, sekretariat Komune Rakapare, sebuah organisasi penelitian dan pergerakan sosial. Organisasi ini kecil, berisi orang-orang dengan kegelisahan khas anak muda akan sistem dunia. Setelah satu tahun berorganisasi bersama, menemui beberapa rintangan, belajar dari orang-orang, pengalaman, dan karya-karya, mulai tercetuslah niatan untuk merealisasikan koperasi, ide yang seringkali hinggap di benak.

Malam itu juga, dengan semangat mereka membicarakan pembentukan koperasi pendidikan alternatif. Semacam kuliah singkat filsafat, kelas kolase, kursus berkebun permakultur, ataupun sekolah aktivisme yang dikoperasikan. Rencananya bakal diluncurkan awal bulan kedelapan.

Setelah membicarakan landasan filosofis, bentuk, dan mekanisme, tibalah saat pencarian nama. Mereka memberikan ide masing-masing. Setiap orang memberi kata kunci dan terkumpul kata-kata: sederhana, murni, selaras alam, semangat, asah, kelana, rasa, cendekia, dan bahagia.

“Kita buat dua kata, ya. Biar kedengaran enak dan lega,” kata seorang laki-laki peserta diskusi.

Banyak nama tercetus, mulai dari Sekolah Manusia, Alam Raya, dan lain-lain. Lalu seseorang teringat pada Ura-Ura. Ia menceritakan pada mereka tentangnya, juga makna kata dan filosofi yang cocok dengan ide mereka kali ini. Ketika Ia menanyakan pada dua kawannya yang lain apakah nama itu boleh digunakan untuk ide ini, kedua manusia itu pun setuju.

Ketujuh manusia yang berdiskusi pun setuju menggunakan nama tersebut, bahkan juga setuju untuk menggunakan logo yang sudah didesain satu tahun lalu. Supaya semenjak awal sudah terbuka dan bersifat kooperatif, kata mereka. Di bawah nama Ura-Ura ada tajuk menggantung: Gugur Gunung Pendidikan yang diusulkan oleh salah satu di antara mereka. Istilah Gugur Gunung seringkali digunakan masyarakat adat Nusantara, khususnya di tatar Sunda, untuk menyebut suatu kegiatan gotong royong. Si pengusul kebetulan merupakan seorang pengikut ajaran Sunda Wiwitan dan ingin mengembalikan pengetahuan serta kebudayaan Nusantara dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan nama dan tajuk tersebut, mereka berharap Ura-Ura bisa menjadi ruang bernafaskan kolektivisme dan kooperasi untuk membangun pendidikan alternatif yang mereka ingin wujudkan bersama dengan komunitas lain dan masyarakat luas. Mereka juga berharap, melalui koperasi mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai tujuan bersama.  Ura-Ura diinisiasi oleh banyak orang dan terinspirasi oleh banyak orang, melampaui dimensi ruang dan waktu.

Kira-kira begitulah perjalanan sederhana di balik nama Ura-Ura. Nama yang sempat ditinggal, namun dihidupkan kembali. Semoga nama yang baik memberi kita energi dan sasmita yang baik pula.

Berkah Semesta untuk kita semua,

Bandung, 12 Juli 2016

Iklan