Tentang

Kegelisahan dalam kehidupan kadang-kadang membawa kita pada hal-hal tak terduga, jika kita mengijinkannya. Seperti halnya dengan kegelisahan akan kondisi dunia pendidikan. Kita semua mengerti bahwa ada yang salah dengannya; tidak sesuai dengan idealisme ataupun nilai-nilai kebaikan yang kita percaya. Tapi darimana kita mulai mengubahnya? Sudah banyak upaya perubahan dilakukan oleh orang-orang di berbagai daerah, namun apakah itu semua cukup? Banyak pertanyaan membuat kita penasaran dan menerka-menerka dalam kepala. Pertanyaan selanjutnya, mengapa tidak kita transformasi saja kegelisahan tersebut menjadi sesuatu yang menyalakan gerakan pendidikan yang nyata-nyata membebaskan dan mampu bertahan di tengah kepungan sistem dunia yang saling menindas? Pendidikan seperti apa yang sebenarnya kita butuhkan? Apakah betul pendidikan dalam kelas-kelas berfasilitas mewah di kampus prestisius, yang membuat kita seolah lebih “intelek” dengan aneka titel dan kekakuan akademik itu, dapat membawa masyarakat kita menjadi lebih baik?

Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebutlah, Ura-Ura menjelma sebuah kemenjadian. Sekelompok manusia pun memutuskan untuk memulai upaya merenggut kembali pendidikan. Dari mana mulainya? Dari mereka dan lingkungan di sekitar mereka: kawan-kawan, pekarangan, warung kopi, jaringan komunitas, juga orang-orang yang bekerja keras sepanjang hari tapi tetap terjebak dalam kemiskinan sementara yang lain bisa berfoya-foya di atas darah dan peluh mereka. Seperti halnya manusia lain, mereka memiliki cita-cita ideal nan mengawang-awang dalam kepala, juga hasrat yang menggebu-gebu untuk melawan sistem pendisiplinan tubuh dan penyeragaman bawah sadar yang serba masif dan terstruktur. Karena pada kenyataannya, sistem pendidikan seperti ini justru mengasingkan manusia satu dari manusia lainnya, dari lingkungan hidup, bahkan dari dirinya sendiri. Untuk Ura-Ura, mereka menawarkan solusi sederhana untuk bekerja bersama denganmu memperbaiki pendidikan sekarang sekaligus merebut maknanya kembali.

Ide yang ditawarkan berasal dari cita-cita pendahulu kita sendiri: koperasi. Koperasi yang bersemangat kekeluargaan, kehangatan, kebersamaan dan keakraban namun juga punya strategi bertahan yang mumpuni dalam urusan pengelolaan dan keberlanjutan. Mengapa tidak kita wujudkan dan laksanakan ide tersebut bersama-sama?

Dengan koperasi, permasalahan-permasalahan yang biasa dihadapi oleh gerakan pendidikan alternatif, seperti sumber daya manusia, variasi dan kualitas materi, manajemen sumber daya gerakan, logistik, serta keuangan tidak lagi menjebak kita dalam frustrasi berkepanjangan, melainkan bisa kita atasi secara kolektif melalui gotong royong. Pada akhirnya, koperasi menjadi manunggal dengan esensi pendidikan itu sendiri, yakni bagaimana kita memaknai proses belajar untuk mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan bersama.

Jika kamu tertarik untuk memahami latar belakang dan pemikiran filosofis yang melandasi Ura-Ura lebih mendalam, kamu bisa mengunduh narasi lengkapnya di sini.

 

Iklan